Selamat Datang di Situs Resmi Asy-Syathibi Center, Kairo

Menyelami Hakikat Perubahan

Secara umum, manusia sejatinya memiliki tujuan akhir dari sebuah proses, meskipun hasil tak selamanya mengindikasikan hakikat proses tersebut. Akan tetapi, proses yang maksimal menjadi awal terciptanya kesuksesan. Juga boleh dibilang bahwa dasar dari sebuah kesuksesan terpancar pada komponen kepercayaan, cara pandangan hidup, kedewasaan penyikapan, dan penumbuhan antusiasme untuk penggapain suatu target.

Pernyataan Al-Azhar Asy-Syarif Tentang Peristiwa Port Said yang Mengenaskan

Lembaga Masyikhah Al-Azhar menyampaikan duka cita yang mendalam untuk para keluarga korban dan ikut merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang terluka. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada mereka.

Komentar Mereka Tentang Revolusi Mesir

Revolusi Mesir sungguh menakjubkan, dengan kedamaian dan kematangannya, dengan persatuan anak bangsanya dan dengan kesabaran juga kekokohan mereka untuk menorehkan sejarahnya dengan tangan mereka sendiri.

Yang Penting Adalah Kemauan…!

Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengar mengatakan, “Biarlah hidup ini mengalir seperti air”. Ungkapan ini menurut penulis perlu dicermati lebih jauh lagi kebenarannya dan masih memungkinkan untuk berpotensi pada dua sisi yang berbeda pada waktu yang bersamaan.

Gebyar Asy-Syathibi; 10 Tahun Usia Asy-Syathibi

Gebyar Asy-Syathibi; 10 Tahun Usia Asy-Syathibi.

Minggu, 04 Maret 2012

Pernyataan Al-Azhar Asy-Syarif Tentang Peristiwa Port Said yang Mengenaskan


Lembaga Masyikhah Al-Azhar menyampaikan duka cita yang mendalam untuk para keluarga korban dan ikut merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang terluka. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada mereka..
Sebagaimana Lembaga Masyikhah Al-Azhar mengajak pihak yang berwenang untuk menghukum semua pelaku yang melakukan tindakan kesalahan dan memberikan hukuman setimpal bagi pihak-pihak yang terlibat. Dan agar menggunakan undang-undang yang berlaku secara objektif dan tepat sasaran agar bangsa kita terhindar dari peristiwa serupa yang menyakitkan ini. Prilaku buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada kita dan sekarang kita menanggung akibatnya berupa pertumpahan darah yang tidak bersalah dan kerugiaan material yang sangat banyak. Tidak ada daya dan upaya selain dari Allah swt.
Selain itu Lembaga Masyikhah Al-Azhar mengajak semua kalangan masyarakat untuk menjauhi tindakan pertumpahan darah orang-orang yang tidak berdosa, melakukan kekerasan dan permusuhan antar sesama saudara. Maha Benar Allah dalam firman-Nya:
ولا تقتلوا انفسكم إن الله كان بكم رحيما (النساء: 29)
“Dan janganlah kamu membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”.
Ya Allah jagalah Mesir dan rakyatnya, hindarkanlah ia dari segala bentuk kerusakan wahai Rabb semesta alam.

Masyikhah Al-Azhar, 10 Rabiul Awal 1433 H / 2 Februari 2012      

Komentar Mereka Tentang Revolusi Mesir


Revolusi Mesir sungguh menakjubkan, dengan kedamaian dan kematangannya, dengan persatuan anak bangsanya dan dengan kesabaran juga kekokohan mereka untuk menorehkan sejarahnya dengan tangan mereka sendiri. Mayoritas pimpinan dan para ilmuan dunia berkomentar tentang revolusi yang mulia ini dengan ungkapan yang menjadikan kebanggaan bagi setiap warga Mesir.
Berikut ini komentar mereka:
a. Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mengatakan: “Kita harus mendidik anak-anak kita kelak agar seperti para pemuda Mesir..
b. Presiden Heinz Fischer Austria: “Rakyat Mesir merupakan rakyat terbaik dunia dan berhak untuk menerima anugerah nobel perdamaian”.
c. Mentri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle berkata: “Aku berharap dapat mengunjungi Mesir dan berbincang-bincang dengan para pemimpin revolusi”
d. Panglima Angkatan Bersenjata Israel mengatakan: “Peristiwa yang terjadi di Mesir mengharuskan kita untuk rendah hati dan mawas diri dalam penilaian kita terhadap dunia Arab”
e. Mantan Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi mengatakan: “Bukan hal yang baru di Mesir, mereka membuat sejarah mereka seperti biasanya.”
f. Perdana Menteri Norwegia, Jens Stoltenberg mengatakan: “Sekarang kita semua bagaikan orang Mesir”

Dikutip dari: Majalah Al-Azhar, Edisi: Rabiul Akhir 1433 H / Maret 2012 M. 

Yang Penting Adalah Kemauan…!


Oleh: Imam Suryansyah, Lc.
Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengar mengatakan, “Biarlah hidup ini mengalir seperti air”. Ungkapan ini menurut penulis perlu dicermati lebih jauh lagi kebenarannya dan masih memungkinkan untuk berpotensi pada dua sisi yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Ada sisi benar dan sisi salahnya, tergantung persepsi orang dalam menilai hidup ini.
Ibarat mendayung sampan, meskipun harus mengikuti aliran air, sampan akan sampai dengan selamat selama terus berhati-hati dan memperhatikan arah dan peta tujuan yang akan ditempuhnya. Namun, ketika lengah sedikit saja, maka akan berakibat bahaya yang sangat fatal. Sampan akan berbelok mengikuti aliran sungai yang bermuara pada tebing jurang yang sangat dalam.
Sebenarnya ungkapan hidup mengalir seperti air tanpa tujuan – menurut penulis- merupakan talbis syaitan (bisikan setan) yang menginginkan kita hidup tanpa target dan muhasabah (evaluasi) diri yang berujung pada penyesalan. Hal ini senada dengan ungkapan “takut riya” dalam permasalahan shalat berjamaah yang seolah-olah benar dan masuk akal, padahal diantara tujuan bisikannya menginginkan agar kita tidak menjadi orang yang maksimalis (all out) dalam beramal. Hanya merasa puas dengan tingkat prestasi yang rendah dan tidak berkualitas.  
Kaitannya dengan hal diatas, kalau kita korelasikan dengan permasalahan belajar atau menuntut ilmu, visi misi dan target dalam belajar merupakan sebuah keniscayaan yang harus senantiasa diperhatikan. Namun, tidak bisa kita pungkiri, sebagian kita berbeda-beda dalam menyikapi cara pandang belajarnya, ada sebagian yang berpandangan bahwa menuntut ilmu tidak terpaku pada ilmu yang didapatnya dibangku kuliah saja. Sehingga, lebih banyak memperkaya dengan ilmu-ilmu lain yang menunjang dan bermanfaat di masyarakat nantinya diluar bangku kuliah. Atau bisa kita kategorikan dengan istilah science oriented. Ada juga sebagian lagi yang mind set-nya muqorror oriented, artinya kelulusannya diukur dengan naik atau tidaknya mata pelajaran yang diujikan dalam bangku kuliah.
Kedua cara pandang diatas memiliki kelebihan dan kekurangannya. Namun alangkah baiknya jika keduanya bisa dipadukan dan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Karena bagaimanapun, prestasi akademis merupakan kebutuhan yang mesti diperhatikan dalam menuntut ilmu, tapi bukan segalanya. Perlu diimbangi dengan wawasan keilmuan lainnya yang mendukung bidang yang kita geluti masing-masing, sehingga kita sampai pada tingkat pemegang otoritas dalam bidangnya. Atau paling tidak, kita telah sampai pada pemahaman ajaran Islam yang utuh dan universal sehingga masyarakat dapat menerimanya dengan utuh pula.
Namun, jangan sampai kita terjerumus pada kategori belajar yang ketiga, muqorror oriented yang mengandung konotasi negatif, yaitu dilakukan oleh mereka yang mencukupkan belajar muqoror saat ujian saja (bahkan cukup dengan metode SKS {system kebut semalam}), setelah itu lepas kendali dan beraktifitas pada kegiatan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan belajar. Karena tipe belajar ini mempunyai efek negatif yang berujung pada penyesalan. Bukan saja berpengaruh pada prestasi belajarnya, akan tetapi lebih jauh lagi orientasi dalam menuntut ilmunya akan terkikis sedikit demi sedikit bahkan sirna sama sekali.
Dan biasanya, hal ini sangat erat kaitannya dengan faktor diri sendiri (internal) dan lingkungan sekitar (eksternal). Pertama, faktor diri (internal) yang lebih cenderung pada tidak adanya visi misi dan target yang jelas selama proses belajar. Seolah-olah waktunya kosong, penuh dengan kegiatan yang bersifat insidentil, suka taswif (menunda-nunda) dan mudah sekali untuk mengatakan “ya” ketika ada ajakan. Dan sebagainya.
Sedangkan yang kedua, faktor lingkungan (eksternal) yang lebih cenderung pada komunitas dimana ia berinteraksi didalamnya. Sebagaimana kaidah umum mengatakan, “lingkungan baik akan menghasilkan karakter dan kepribadian yang baik dan lingkungan yang buruk akan menghasilkan karakter dan kepribadian yang buruk juga”.  
Lalu bagaimana menyikapi organisasi dan tetap berprestasi?   
Dalam hal ini, penulis tidak ingin memberikan jawaban seperti halnya “mengajarkan bebek untuk berenang atau mengajarkan burung untuk terbang”. Karena sesungguhnya kita sudah mengetahui jawabannya masing-masing. Hanya saja butuh kemauan dalam diri bahwa sebuah kondisi tidak akan berubah selama tidak ada gerakan (aksi nyata) dan gerakan tidak akan maksimal kalau tanpa didukung oleh azam yang kuat.  
Jadi, pada dasarnya organisasi bukanlah penghambat seseorang untuk berprestasi. Bahkan kedua-duanya bisa bergandengan antara satu sama lainnya, “sukses study juga sukses organisasi”. Yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana faktor diri sendiri ini berperan. Selama visi misi dan target pribadi terus terkontrol dan dapat mengkondisikan diri berada dalam lingkungan yang baik, maka prestasi akan diraih tanpa harus mengkambing-hitamkan organisasi.
Hal ini dapat kita katakan, bahwa letak permasalahan bukan pada bagaimana menyikapinya, yang lebih penting adalah adanya kemauan untuk merubah paradigma diri sendiri...! Wallahu a’lam.

Jumat, 02 Maret 2012

Gebyar Asy-Syathibi; 10 Tahun Usia Asy-Syathibi


Kamis, 02 Februari 2012

Pernyataan Terkait Amandemen Beberapa Pasal Dalam Peraturan Al-Azhar


Segala puji bagi Allah, salawat dan salam atas Rasulullah, semoga keselamatan dan rahmat-Nya untuk Anda sekalian…
Sungguh senang sekali dapat bertemu dengan anda sekalian pada hari ini untuk menjelaskan hal yang menjadi pertanyaan sebagian orang akhir-akhir ini terkait amandemen beberapa pasal dalam peraturan Al-Azhar.
Tidak pantas bagi saya untuk mengingatkan Anda sekalian terkait kondisi dan situasi yang telah kita lewati bersama. Sudah lama kita berharap dan bercita-cita akan suatu hari dimana lembaga agama terbesar kita ini, yaitu lembaga “Al-Azhar Asy-Syarif” telah memenuhi syarat dalam memilih syekhnya dari para ulama yang ada didalamnya. Setelah dewan tertinggi ulama mengembalikan sejarahnya, baik bersifat ilmiah, pemikiran atau kenegaraan agar Al-Azhar kembali ke status sebelumnya: sebagai pusat seluruh ilmu keislaman, menjadi referensi utama Negara-negara islam, symbol kemuliaan masyarakat dan menjadi rumah bagi keluarga orang Mesir.
Sampai saat ini kita semua berharap yang mana Al-Azhar mandiri sendiri, dipegang oleh para ulamanya dan putra-putrinya juga bangkit guna menjadi tiang yang kokoh bagi masyarakat Mesir dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara sipil dalam wilayah kebijakan, dibantu lalu berkhidmah dan menasehati, tidak untuk diperintah lalu tunduk dan menjual harga diri. Dan Al-Azhar berharap orang-orang yang berkepentingan dalam memanej perdebatan sekarang terkait amandemen beberapa pasal dalam aturan Al-Azhar adalah mereka yang banyak memperhatikan dan paling lantang bicaranya demi (tercapainya) tujuan-tujuan tersebut.
Sejak mengemban amanah, saya (selaku Syekh Azhar) berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan dua tujuan besar ini; kemandirian Al-Azhar dan bentuk pemilihan Syekhnya bersamaan dengan kembalinya lembaga tertinggi ulama Al-Azhar. Dan begitu juga dengan tujuan yang ketiga yang tidak kalah pentingnya dengan dua tujuan sebelumnya bagi agama, bangsa dan umat kita, yaitu kembalinya manhaj Al-Azhar yang murni dalam syariah, bahasa dan wawasannya yang luas agar pemikiran wasatiy (moderat) dan jernih serta pemahaman yang lurus tentang Islam ini tetap berlangsung. Inilah risalah Al-Azhar yang diserahkan kepada kami agar mengemban dan melaksanakannya dalam rangka berkhidmah untuk umat dan kemanusiaan secara umum.
Sejak lebih dari setahun saya telah meneriakkan pentingnya pemilihan syekh Al-Azhar dan dalam waktu itu pula saya bekerja untuk mengembalikan manhaj yang murni tadi secara bertahap. Setelah revolusi, kita telah terbantu dengan udara kebebasan dan kita berusaha untuk merealisasikan harapan dan cita-cita yang telah terpendam sekian lama dan sekarang kebebasan itu telah menjadi kesepakatan lembaga dan tuntutan masyarakat yang mendesak. Oleh karena itu, kami merumuskan peraturan dan mengajukannya ke pihak yang berwenang akan hal tersebut untuk dilihat dan dikeluarkan keputusannya. Dan saya berkeinginan keputusan tersebut berisi bahwa masa khidmah syekh Al-Azhar berakhir pada usia 70 tahun. Akan tetapi dari pihak lembaga resmi yang melakukan kajian akhir (keputusan) merubahnya dan mengembalikan perubahan amandemen tersebut tetap berjalan seperti keputusan yang lama walaupun pada dasarnya saya cenderung dengan pendapat saya yang awal.
Saya ingin memberitahukan secara terus terang, bahwa kita berkeinginan untuk melaksanakan keputusan yang telah disepakati seluruh elemen secara cepat. Kita menegaskan bahwa tokoh-tokoh Al-Azhar lebih mengetahui seluk beluk permasalahannya. Tidak ada masalah bagi kami jika peraturan tersebut didialogkan pada level tertentu dan pada pemegang kebijakan manapun. Kita semua berada dalam lingkungan demokrasi bekerja berdasarkan tuntutan rakyat, lebih khusus lagi tuntutan yang sudah menjadi kesepakatan rakyat. Kita percaya bahwa pihak yang meninjau peraturan Al-Azhar akan mendukung dan menetapkannya, bahkan akan bertambah kuat dan menegaskan.
Sebagaimana saya beritahukan juga bahwa keputusan yang telah keluar hanyalah revisi beberapa pasal saja dari peraturan pengembangan Al-Azhar, yaitu peraturan 103 tahun 1971 M dan tidak lebih dari dua pasal: Pasal pertama terkait independensi Al-Azhar dan yang kedua terkait terbentuknya lembaga tertinggi ulama Al-Azhar dan tugas-tugasnya. Sedangkan terkait AD-ART, administrasi dan sistem yang lebih mendetail akan dibuat oleh para pihak Al-Azhar sendiri secara transparan, objektif dan demokrasi, tanpa ada keterlibatan dari atasan atau campur tangan penguasa. Begitu juga lembaga tertinggi ulama Al-Azhar akan membentuk formasi dari semua kalangan yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota didalamnya bukan melalui keputusan personal akan tetapi melalui tim yang netral dari para ahli dibidangnya yang tidak diragukan lagi keilmuan dan kepercayaannya.
Dan Allah Maha Mengetahui bahwa Syekh Al-Azhar sekarang tidak mempunyai kepentingan apapun untuk memilih beberapa kalangan dengan maksud agar memilihnya dikemudian hari. Ini bukanlah kepribadiannya, dia – atas karunia Allah- tidak menginginkan jabatan duniawi dan kepentingan apapun. Selanjutnya, seperti diketahui, bahwa semua peraturan tidak selamanya berlaku untuk diterapkan, lalu kenapa Syekh Al-Azhar harus mengusut jabatan yang akan hilang ini cepat ataupun lambat?
Semoga Allah memaafkan kita semua dan menjaga Azhar, Mesir dan Islam...

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Masyikhah Al-Azhar, 9 Rabiul Awal 1433 H/1 Februari 2012 M.

Syekh Al-Azhar,
Prof. DR. Ahmad At-Thoyyib

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More